Calon Presiden 2009:
Preferensi Pemilih Masih Tersebar
Deklarasi dini sebagai calon presiden terbukti efektif untuk konsolidasi pemilih partai. Survei nasional CSIS pada Juni-Juli 2008 menunjukkan soliditas pemilih Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) pada Megawati Soekarnoputri sangat tinggi, yaitu 83%. Megawati juga mendapatkan dukungan 9% pemilih Partai Golkar dan 2% pemilih PKS. Dengan pencalonan yang dipercepat, pemilih PDI-P mendapat visi tunggal untuk memenangkan kembali Megawati ke kursi presiden.
Efektivitas pencalonan dini paling tidak terlihat pada konsolidasi internal partai terutama bagi pemilih 2004. Hasilnya, hampir tidak ada nama lain yang muncul dalam benak pemilih PDI-P kecuali Mega. Artinya, suara Mega dalam pilpres 2009 akan ditentukan oleh perolehan suara PDI-P dalam pemilu legislatif. Jika perolehan partai besar, maka ia akan mendapat dukungan yang besar pula dalam pilpres. Kombinasi strategi pencapresan Mega dan konsolidasi mesin partai sejak tahun 2004 sebagai oposisi menunjukkan hasil positif. CSIS menempatkan PDI-P sebagai pemenang pemilu “hari ini” dalam surveinya. Sebaran suara PDI-P ini sangat mungkin terjadi jika Megawati tidak jadi capres.
Dua tokoh dari pesaing terberat, JK (Golkar) dan Hidayat Nur Wahid (PKS), sama sekali tidak mendapatkan dukungan pemilih PDI-P. Selain Mega, pemilih PDI-P lebih senang mendukung tokoh-tokoh nasionalis seperti HB X, Wiranto, dan SBY. Tokoh-tokoh Islam kurang mendapat tempat dalam hati pemilih partai warisan Soekarno tersebut sekalipun telah memiliki Baitul Muslimin (Bamusi) sebagai rumah politik kelompok Islam. Oleh karena itu, kecil kemungkinan Megawati akan mengambil JK atau Hidayat Nur Wahid. Karena, pemilih Golkar hanya memberikan 9% dukungan pada Mega dan PKS hanya 2%.
Ini berbeda dengan Partai Golkar. Sebagai pemenang pemilu 2004, Golkar hingga hari ini belum memiliki calon presiden definitif yang akan disosialisasikan hingga pilpres 2009 nanti. Akibatnya, suara pemilih Golkar menyebar ke beberapa tokoh dengan berimbang. Tokoh militer masih menjadi pilihan favorit. Wiranto mendapatkan dukungan tertinggi yaitu 21,5% yang ditempel ketat oleh SBY dengan 21%. Tokoh sipil Golkar Jusuf Kalla (JK) yang hari menjabat ketua umum, berada di urutan ketiga dengan angka 19%. Urutan keempat sebagaimana diprediksi oleh banyak survei ditempati oleh Sultan Hamengku Buwono X (HB X) dengan angka 9%. Hingga hari ini, belum satu tokohpun dari empat nama tersebut yang berani mendeklarasikan diri sebagai calon presiden. Sedangkan Prabowo yang keluar dari Golkar dan bergabung dengan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) tidak mendapat tempat di mata pemilih Golkar.
Wiranto memiliki dukungan kuat di Golkar karena faksi militer dan warisan mesin politik dalam pilpres 2004. Namun, kegagalan dalam pilpres lalu menutup jalan baginya untuk maju kembali tahun 2009 dari partai yang sama. Oleh karena itu, dengan dua basis pendukung tersebut, Wiranto mendirikan Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) yang memiliki karakter hampir sama dengan Golkar. Hanura adalah kendaraan politik Wiranto untuk menjadi calon presiden. Namun, hingga kini tak ada pernyataan yang tegas dari Wiranto untuk menjadi capres dari Hanura. Sebagai partai baru tantangan yang dihadapi Wiranto sangat berat. Target yang harus nyata adalah lolos parliemantary threshold (ambang batas hak kursi DPR) sebesar 2,5%. Jika gagal, maka peluang Wiranto sangat kecil dan “nafas” Hanura sebagai partai akan sulit berkembang. PT menjadi mekanisme pintu besi yang akan sulit sekali diterobos oleh partai-partai baru.
Sama dengan Wiranto, SBY memiliki pendukung cukup kuat di Golkar. Angka 21% yang dikeluarkan oleh CSIS menunjukkan hal tersebut. Pemilih Golkar 2004 belum lupa bahwa SBY berpasangan dengan JK dari Partai Golkar. Hingga kini duet SBY-JK masih mendapat dukungan kuat dari Partai Golkar melalui fraksinya di DPR. Hanya, pasang-surut hubungan SBY-JK kerap sekali mempengaruhi politik Golkar. Hubungan politik dengan SBY adalah hubungan yang sulit.
Tokoh Islam Hidayat Nur Wahid (HNW) masih merupakan calon presiden paling populer di mata pemilih PKS. Sebagai mantan presiden partai dan kini menjabat Ketua MPR RI, HNW memiliki sumberdaya politik simbolik yang cukup siginifikan. Oleh karena itu masuk akal jika PKS dalam rapat kerja nasional di Makassar minggu lalu menegaskan akan mengajukan calon presiden sendiri jika berhasil meraupu 20% suara dalam pemilu 2009. HNW tidak akan mendapat saingan berarti dari tokoh politik Islam lainnya seperti Yusril Ihza Mahendra yang diusung oleh Partai Bulan Bintang (PBB). PBB adalah partai kecil yang sulit melampaui angka 3% sebagaimana yang telah ditunjukkan dalam pemilu 1999 dan 2004 lalu. Partai-partai Islam lain seperti PPP, PKNU, PBR, dan PMB hingga hari ini tidak memiliki tokoh populer yang layak untuk diajukan sebagai capres.
Dukungan pemilih PKS pada HNW masih belum optimal karena masih setengah jumlah pemilih. Warga PKS punya dua alternatif pilihan yaitu SBY dan HB X. SBY masih merupakan alternatif terkuat untuk jadi capres jika PKS mengambil posisi kedua.
Kendaraan politik SBY
Ada tiga kendaraan politik SBY dalam pilpres 2009 nanti, yaitu Partai Demokrat (PD) , Golkar, dan PKS. Sebagai Ketua Dewan Pembina PD, SBY diperkirakan mendapatkan dukungan 100% pemilih partai. Dukungan pemilih Golkar (21%) dan PKS (14%) memberikan angin segar bagi SBY untuk mendapat tiket periode kedua. Hanya saja, rivalitas Golkar dan PKS untuk mendapatkan posisi kedua pasangan SBY menjadi ganjalan serius bagi sang incumbent. Jika buntu, SBY hanya punya satu pilihan. Mengambil Golkar atau mengajak PKS.
Pilihan yang sulit bagi SBY. Jika mengambil Golkar, maka ia akan berpasangan kembali dengan JK. Mengambil figur lain dari partai yang sama hanya akan membuat dukungan Golkar pada dirinya tidak solid. Namun jika harus mengambil PKS, maka ia akan kehilangan dukungan Partai Golkar. Selain JK, Golkar masih punya HB X yang cukup populer. Jika terus merangkak, HB X bisa jadi akan menjadi capres Golkar yang harus mengorbankan JK jika Golkar berkoalisi dengan partai lain.
Jika SBY tetap meneruskan paket yang ada sekarang maka PKS dipastikan akan mengambil jarak dengan SBY. Wiranto yang kini memimpin Partai Hanura masih punya kans untuk dicalonkan oleh PKS. Pendukung Wiranto di PKS cukup kuat dalam pemilu 2004 lalu sekalipun institusi partai secara resmi mendukung Amien Rais karena dianggap representasi tokoh Islam.
Paling buruk bagi SBY jika Golkar atau PKS akhirnya tidak memberikan dukungan sama sekali untuk pencalonan. Semua ini tergantung pada popularitas SBY. Sejak menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) Mei lalu, popularitasnya terus menurun. Survei-survei nasional yang dilakukan oleh lembaga-lembaga riset menujukkan hal tersebut. Terakhir, survei nasional CSIS yang menunjukkan “kekalahan” SBY (14%) dari Mega (23%). Jika popularitas ini terus memburuk, baik karena kinerja individu presiden maupun para pembantunya di kabinet dan partai-partai pendukung di DPR, maka kans SBY untuk mendapat tiket kembali sangatlah kecil.
Akhirnya, perolehan suara partai dalam pemilu legislatif menentukan peta koalisi capres 2009. Partai-partai besar seperti Partai Golkar, PDI-P, dan PKS diprediksi akan bersaing ketat untuk mendapatkan posisi RI-1 atau RI-2. Jadi, ketimbang sibuk menimbang-nimbang capres dan format koalisinya, para politisi lebih baik konsentrasi pada pemenangan partai masing-masing. (Marbawi A. Katon / Analis Politik Litbang Media Group)
Sumber : Media Indonesia, 24 Juli 2008